Belajar dari Manusia-Manusia di Toilet

Cerita Pembuka Versi Basa Jawa

Aku mandek jalaran ono wong-wongan sing lagi njagong ning pinggir dalan ngawe-awe aku. Ora ono opo-opo ujug-ujug wong-wongan kuwi mau ngandani aku.
“Ojo mangan tai, kuwi ora apik kanggo kewarasanmu!” Kandane wong-wongan mau.
Aku dadi bingung sedela, ngopo kok wong-wongan mau ngomong koyo ngono. Nanging bar tak pikir-pikir yo pancen bener kandane mau.
Dino bare pas aku liwat dalan kono, wong-wongan sing ngenehi wulangan wingi ora ketok njagong ning pinggir dalan koyo biasane. Nanging wong-wongan mau malah podo ngumpul ning toilet umum sing ono cerak kono.
Pirang-pirang dino tak delok wong-wong kuwi mesthi ono nang toilet. Mergo roso penasaran tak ceraki toilet kuwi. Mak gregat aku kaget ndelok polahe wong-wong mau. Wong-wong mau jebule lagi podo seneng ndilati taine dewe-dewe.
“Opo saiki tai uwis oleh dipangan?” pitakonku ning jero ati bingung.

Cerita Pembuka Versi Bahasa Indonesia

Langkahku terhenti ketika ada beberapa orang yang sedang nongkrong di tepi jalan melambaikan tangan padaku. Tanpa sebab apa-apa mereka berkata padaku.
“Jangan makan tahi, itu tidak bagus untuk kesehatanmu!” Kata mereka.
Aku menjadi bingung untuk sesaat kenapa mereka berkata demikian. Tetapi setelah aku pikir-pikir benar juga kata mereka.
Pada hari selanjutnya ketika lewat jalan itu, mereka yang memberi nasihat kemarin bukannya nongkrong di tepi jalan seperti biasa, tetapi mereka malah berkumpul di sebuah toilet umum yang juga ada di dekat sana.
Beberapa hari aku melihat mereka selalu ada di toilet. Rasa penasaran membuatku mendekati toilet itu. Aku kaget melihat tingkah mereka. Mereka ternyata sedang asik menjilati tahi mereka sendiri.
“Apa sekarang tahi sudah boleh dimakan?” tanyaku dalam hati bingung.

Solusi

Walaupun terdengar aneh Ada dua solusi bagi “mereka” (pemakan tahi) untuk menjadi BENAR.
Solusi 1 : Ralat nasihat menjadi “Makanlah tahi, itu bagus untuk kesehatanmu!”
Solusi 2 : Berhenti makan tahi dan minta maaf kepada yang dinasihati
Solusi nomer 1 bisa MEMBENARKAN tindakan mereka, tetapi itu adalah solusi yang SALAH sebab tahi tidak seharusnya dimakan dan juga tidak bagus untuk kesehatan. Sehingga satu-satunya solusi yang bisa MEMBENARKAN dan BENAR adalah solusi nomer 2. Sebab nasihat mereka diawal sudah benar bahwa tahi tidak boleh dimakan karena akan menimbulkan penyakit. Dan juga nasihat kita yang baik seharusnya tidak perlu diralat walaupun kita sendiri sudah melanggarnya. Akan tetapi kita harus segera meluruskan tingkah kita yang sudah melenceng, membuang kemunafikan, dan bertaubat kepada Yang Maha Kuasa mohon ampunan-Nya.

Kesimpulan

  • Pikir-pikir dahulu jika ingin memberi nasihat/ petuah kepada orang lain, karena bisa-bisa kitalah yang akan melanggarnya sendiri.
  • Tahi/ kotoran tidak boleh dimakan.
  • Jangan terlalu serius ketika di dalam toilet karena nanti bisa-bisa anda ditelan oleh jamban.

Do not eat shit

Akhir Kata

Kenapa ada versi Basa Jawa pada cerita diatas? Karena saya memang orang Jawa yang sudah seharusnya menjaga Basa Jawa tetap lestari. Dan juga ada yang pernah berkata pada saya.
“Nek karo sing podho wong Jawa kuwi ngomong wae nganggo Basa Jawa. Ojo nganti awake dewe sing wong Jawa lali Basa Jawa koyo kae si M……[SENSOR / NAMA ORANG], lagi lungo dines pirang tahun bali-bali nganggo Bahasa Indonesia terus!” Kata dia.
“Hmmm.. betul juga ya.” Pikirku sambil menatap tajam kearah orang itu.

Catatan : Cerita pembuka adalah fiktif belaka.